Kita pernah menjadi sebuah ketentuan pada pertemuan yang saling mengisi hingga saling meniadakan. Namun pada langkah yang saling menjauhi. ketentuan terasa seperti sebua perjudian antara waktu dan detaknya sendiri. karena pada detik ke sekian kita sadar bahwa penerimaan akan membuat kita merasa utuh jika sudah sepenuhnya. Kita adalah sepasang salah yang menolak pasarah.
Jika perubahan adalah satu-satunya yang pasti, maka ketidak pastian akan dimiliki oleh waktu. Karena pada detak ke sekian aku mendapati diriku jatuh cinta pada seseorang yang tidak ingin secara egois aku miliki. lalu kita, diselundupkan dalam kala sebagai pengantar pesan utusan semesta. Kita adalah sepasang luka yang saling melupa.